JofiPay,-Akuisisi Quancomm oleh perusahaan Singapura terganjal pemerintahan AS.Kekhawatiran "mengancam atau merusak keamanan nasional AS," mempersulit akuisisi yang bernilai US$140 miliar atau Rp1.925 triliun dari Broadcom untuk  Qualcomm.
Pemerintah AS mempersulit/menghadang proses tersebut.

Pemerintah Trump mengeluarkan pernyataan bahwa "Proposal pengambilalihan Qualcomm oleh pihak lain (Broadcom) dilarang dan penyatuan, akuisisi, atau pengambilalihan, yang berdampak langsung atau tidak langsung, juga dilarang."
Pemerintah AS menyebutkan ada "bukti kredibel" bahwa akuisisi akan mengancam atau merusak keamanan nasional AS."

Jika akuisisi jadi dilangsungkan, Broadcom akan menjadi pembuat chip terbesar ketiga di dunia setelah Intel dan Samsung.

Menurut analis pelarangan yang menyangkutkan keamanan nasional AS itu hanya sebagai alasan (alih-alih) sebenarnya hal itu lebih berat ke alasan persaingan.

Mario Morales, wakil direktur perusahaan teknologi dan semikonduktor IDC mengatakan kepada BBC "Mengingat iklim politik di AS dan wilayah lainnya di dunia saat ini, semua pihak tengah melihat merger dan akuisisi dari sudut konservatif, yaitu bagaimana melindungi wilayah mereka."

"Kami semua berada di awal perlombaan dan 5G adalah permata yang ingin diraih semua pihak. Semua kawasan tengah berlomba menuju teknologi itu," tambahnya

Selama empat bulan terakhir Broadcom telah memburu Qualcomm—yang bermarkas di San Diego, AS

Kendala muncul awal pekan lalu saat Komite Investasi Asing AS yang beranggotakan lembaga-lembaga yang AS dan dipipimpin oleh Departemen Keuangan AS melakukan penyelidikan rencana Broadcom untuk mengakuisisi Qualcomm.

Intervensi pemerintah AS di bawah kepemimpinan Trump bukan kali pertama terjadi di dunia bisnis.

Tahun lalu, Trump menghadang rencana perusahaan Cina Canyon Bridge Capital Partners dalam membeli perusahaan AS Lattice Semiconductor seharga US$1,3 miliar (Rp17 triliun).

Penghadangan akuisisi terjadi ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menetapkan kenaikan tarif bea masuk impor baja dan alumunium. Menurut Trump, "perang dagang itu baik".