Jofipay-Penerapan tarif perdagangan oleh Amerika Serikat kepada China berpotensi menaikkan ketegangan perang dagang dengan China.
AS berencana menaikkan tarif sebesar 10% senilai US$200 miliar terhadap barang-barang impor China.

Pelemahan bursa saham di China menjadi pendorong utama atas pelemahan indeks MSCI, dengan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing melemah lebih dari 1% pagi ini.
Sedangkan indeks saham MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 1%. Indeks tersebut telah naik selama dua sesi perdagangan sebelumnya seiring meredanya kekhawatiran perang dagang yang menggoyang pasar global pekan lalu.

Bursa saham di kawasan Asia lainnya juga memerah, dengan indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang, dan Hang Seng Hong Kong yang ikut melorot lebih dari 1%. Adapun indeks Kospi Korea Selatan turun 0,65% pada pukul 10.25 WIB.

Sementara itu, indeks S&P 500 dan Dow Jones di bursa Wall Street Amerika Serikat masing-masing bergerak negatif menuju posisi yang lebih rendah untuk sesi perdagangan berikutnya.

Pemerintah AS mengusulkan untuk memberlakukan tarif tambahan setelah upaya untuk menegosiasikan solusi atas perselisihan dagang antara kedua negara gagal mencapai kesepakatan, menurut pejabat senior pemerintah pada Selasa (10/7) waktu setempat.

Juru Bicara Kamar Perdagangan AS menjelaskan "Tarif itu adalah pajak, sesederhana itu. Memberlakukan tarif lain terhadap produk senilai US$ 200 miliar akan mengerek biaya barang-barang harian bagi warga AS, petani, peternak, pekerja, dan pencipta lapangan kerja. Hal ini juga akan memicu penerapan tarif balasan, sehingga kembali memukul pekerja AS."