Jofipay- Permintaan akan aset save haven akhir-akhir ini semakin meningkat,terutama emas.Ini membuat harga emas bergerak naik dan berpeluang menembus level harga US$1.800 per ounce.
Mengutip dari Bloomberg pada Rabu (24/6/2020), harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Agustus bergerak naik 0,17 persen ke US$1.785,00 per ounce di pasar Comex. Sementara itu, emas diperdagangkan di US$1.768.32 per ounce.

Lonjakan kasus baru infeksi virus corona di berbagai belahan dunia membuat emas terus melanjutkan relinya.
Harga emas dunia sudah mendekati level US$1.800,00 per ounce.

Pandemi virus corona gelombang kedua membawa kekhawatiran pelaku pasar.
Bagaimanapun juga ancaman gelombang kedua wabah memang jadi risiko yang harus diwaspadai mengingat vaksin yang efektif sampai saat ini belum tersedia untuk publik.

Sentimen berikutnya yang mendongkrak harga emas adalah penurunan tingkat suku bunga yang dilakukan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) dan sejumlah bank di negara lain. Hal ini turut diikuti oleh kucuran stimulus dari pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian yang terdampak pandemi virus corona.

Analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar mengatakan, kenaikan jumlah kasus positif virus corona membuat investor berpaling ke emas berjangka. Dhar menuturkan, penurunan tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS, US Treasuries, seri benchmark dengan tenor 10 tahun akan menopang kenaikan harga emas berjangka.

Glodman Sachs Group Inc memprediksi harga logam mulia ini dapat menembus US$2.000 per ounce dalam 12 bulan ke depan.
Belum lagi, adanya kekhawatiran penurunan nilai mata uang dan potensi lonjakan inflasi yang juga akan menjadi katalis positif bagi harga emas.