JofiPay-Hasil rapat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang diumumkan dini hari tadi waktu Indonesia. Ketua Jerome 'Jay' Powell dan sejawat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 1,5-1,75%. Siklus penurunan Federal Funds Rate berhenti untuk sementara setelah terjadi selama tiga kali pertemuan.

Pelaku pasar sudah memperkirakan langkah The Fed ini.Tidak ada kejutan, dampaknya sudah terukur.

Para investor mendapat harapan dari pernyataan Powell saat konferensi pers usai rapat,Powell mengatakan "Proyeksi kami tetap bagus, meski ada risiko di perekonomian global. Seiring perjalanan, kami menyesuaikan posisi (stance) kebijakan moneter ke arah memberikan bantalan dan semacam asuransi. Perubahan ini akan membantu perekonomian menuju outlook yang sesuai."

Pernyataannya Gubernur The Fed ini bisa diartikan bahwa ke depan ruang pelonggaran moneter sudah semakin sempit dan kebijakan moneter akan bias ke arah stabilitas. Netral cenderung ketat.

Pernyataan Powell ini bukan tidak berdasar,terpantau perekonomian AS mengenai resiko resesi sudah menjauh,negeri Paman Sam inisudah mampu membukukan pertumbuhan ekonomi 2,1% pada kuartal III-2019, membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 2%.

Kemudian di sisi tenaga kerja, US Bureau of Labor Statistics melaporkan perekonomian AS menciptakan 266.000 lapangan kerja non-pertanian selama November 2019. Ini adalah penciptaan lapangan kerja tertinggi sejak Januari.

Kepercayaan diri pelaku pasar pun meningkat, dan mulai berani bermain agresif. Saat arus modal mengalir deras ke aset-aset berisiko di negara berkembang, kala itu lah mata uang Asia akan menguat.