JofiPay-Penguatan tajam terjadi pada mata uang Garuda pada penutupan perdagangan kemarin Rabu (07/11) terhadap dolar AS.
Rupiah menguat sebesar 1,45% ke level Rp 14.590 per dollar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, rupiah menguat 4,03%.

Rupiah juga menguat terhadap mata uang lainya seperti menguat terhadap dollar Australia 0,74%, terhadap yuan 1,45%, terhadap euro 0,85%, terhadap poundsterling 1,11%, terhadap yen 1,20%, terhadap won 1,36%, terhadap ringgit 1,32%, dan dollar Singapura 1,16%.

Saat ini rupiah pada situs Bloomber pukul 09.40 WIB berada pada RP 14,667.50 melemah 77.5 poin atau 0.53% dari pembukaan tadi pagi yang berada pada Rp 14,613.8 per dolara AS.

Data internal perekonomian Indonesia yang positif sehingga membantu mendongkrak pergerakan rupiah di pertengahan November ini. Dimulai pada September 2018, neraca perdagangan yang tercatat surplus US$ 230 juta oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dipicu oleh sektor non migas yang menyumbang US$ 1,3 miliar dollar AS.
Angka Inflasi juga turut menyumbang penguatan rupiah, inflasi bulan Oktober 2018 yang hanya 0,28% month to month (mtm), secara tahun berjalan year to date (ytd) senilai 2,22% dan secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai 3,16%. Tidak hanya itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 sebesar 5,17%.

Dari faktor eksternal kekhawatiran kekalahan partai pendukung Presiden AS Donald Trump, Partai Republik, pada pemilu sela kali ini turut membuat para investor melepaskan dollar AS dan mengakibatkan turunnya indeks dolar,kebijakan Trump kedepan akan mengalami gejolak.

Kemenangan Partai Demokrat akan memberikan penyeimbang bagi peta politik di AS sekaligus mengurangi dominasi Partai Republik yang saat ini sangat menentukan arah pengelolaan fiskal AS ke depan dan proses legislasi berbagai kebijakan strategis.
Posisi mayoritas Partai Demokrat di Kongres AS berpotensi dapat mengganjal berbagai kebijakan Presiden Trump yang dinilai tidak berpihak pada market atau market friendly.

Bila kalah, kesempatan ini akan dimanfaatkan pelaku pasar yang selama ini tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan Trump yang dinilai kontroversial seperti trade war. Menurutnya, penguatan rupiah akan terus berlanjut hingga pengumuman resmi hasil pemilu sela AS. Joshua dan Andri sama-sama menilai bahwa penguatan rupiah masih akan terus berjalan karena ditopang oleh fundamental yang masih kuat berkat data perekonomian yang positif.