JofiPay,-Pemerimtahan Amerika Serikat sempat ditutup untuk ke dua kalinya dalam tiga minggu.
Hingga Kamis (8/2) tengah malam, Kongres AS belum menyetujui undang-undang anggaran belanja.Politikus konservatif di Senat, Rand Paul menunda langkah Kongres menyepakati anggaran sementara, Jumat 9 Februari 2018 siang WIB.

Laporan dari CNN menyebutkan bahwa anggaran seharusnya bisa disepakati pada tengah malam yang menjadi batas akhir. Namun, karena salah seorang senator dari Partai Republik tak setuju dengan anggaran yang ada, tenggat pun terlewati. Akibatnya, pemerintahan tutup lagi.

Senator Rand Paul tidak puas dengan defisit 300 miliar dolar dalam anggaran sementara yang sedang digodok. Yahoo News menyebut, penutupan mungkin singkat jika Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat bergerak cepat pada Jumat pagi waktu Washington atau Sabtu siang WIB.

Untunglah, penghentian pemerintahan AS hanya berlangsung beberapa jam. Bloomberg melaporkan, hasil voting di Kongres AS menunjukkan, 240 suara setuju bujet belanja AS dinaikkan, sementara 186 suara menolaknya.

Drama pembahasan tambahan anggaran belanja AS itu sempat membuat saham global berjatuhan. Indeks acuan S&P 500 turun 3,75% pada Kamis (8/2), dan sudah turun 10% sejak puncaknya pada 26 Januari 2018.

Tadi malam, indeks bursa Wall Street dibuka rebound. Hingga pukul 22.00 WIB, Jumat (9/2) Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka menguat 0,95% menjadi 24.087,49. Pun indeks S&P 500 naik 0,96% menjadi 2.606. Begitu pula Indeks Nasdaq menguat 1,16% ke level 6.855,86.

Tambahan anggaran tersebut antara lain akan dipergunakan untuk belanja pertahanan sebesar US$ 165 miliar. Serta senilai US$ 131 miliar untuk belanja domestik, termasuk pendanaan perawatan kesehatan, dan infrastruktur,dikutip dari Reuters.Satu sisi, tambahan belanja itu bisa menjadi stimulus bagi ekonomi AS. Namun di lain sisi juga menimbulkan masalah lain: defisit anggaran yang kian membengkak.

Pada saat bersamaan, kenaikan bunga The Fed justru berpotensi menambah biaya fiskal AS. Celakanya, tidak ada upaya mengurangi biaya tersebut maupun meningkatkan pendapatan tambahan. Dus, meski ketidakpastian berkurang, pasar masih dihantui risiko fiskal AS ini.