JofiPay-Perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam beberapa tahun ini telah mengembangkan strategi teruji untuk mengatasi pelemahan berkala dalam nilai tukar rupiah.Strategi tersebut salah satunya dengan menahan kepemilikin dolar AS demi melindungi laba perusahaan.

Akan tetapi, perilaku mereka justru dapat menambah tekanan terhadap pelemahan mata uang Garuda, sekaligus memperburuk masalah bagi para pembuat kebijakan, terutama mengingat sifatnya yang relatif terbuka dibandingkan dengan negara-negara tetangga dengan sistem mata uang yang lebih ketat.

Bank Indonesia (BI) sebenarnya telah mengambil berbagai langkah untuk berupaya meningkatkan penggunaan rupiah dan sekali lagi mendorong perusahaan-perusahaan untuk menjual dolar AS.

Meski demikian, berdasarkan survei Reuters, sejumlah perusahaan mempertahankan kepemilikan greenback serta hanya memenuhi persyaratan lindung nilai (hedging) minimum.

Pada tahun ini rupiah telah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.Dan tahun ini menjadi level terlemah rupiah sejak 2015.

Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam sebuah pertemuan media Rabu lalu, mengatakan bahwa Undang-undang di Indonesia saat ini tidak memberi pilihan untuk mendesak eksportir menahan pendapatan onshore lebih lama ataupun meminta perusahaan-perusahaan mengonversi kepemilikan dolar AS mereka.

Saat ini rupiah diperdagangkan di kisaran level 13.900. Sejumlah pelaku pasar mulai mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan kembali aturan liberal di Indonesia tentang pergerakan modal.

Kartika Wirjoatmodjo, Chief Executive Bank Mandiri, menyarankan bahwa setelah periode volatilitas berlalu, aturan sebaiknya diubah untuk mengakomodasi beberapa jenis manajemen modal.

“Pendekatan yang lebih lunak adalah memberikan insentif kepada para eksportir. Jadi jika mereka mengonversi (penghasilan dalam dolar AS) menjadi rupiah, mungkin pajak pada deposito mereka dapat dikurangi,” katanya.