JofiPay-Brexit sudah dalam hitungan hari lagi,tetapi pemerintah Inggris masih belum memiliki kesepakatan bagaimana mereka akan meninggalkan blok itu. Jika tak ada kesepakatan yang dicapai, Perdana Menteri Theresa May akan dipaksa menundanya. Hal itu bisa berpotensi pembatalan Brexit sama sekali.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt pada hari Minggu (10/3) mengatakan Brexit dapat dibatalkan jika anggota parlemen Inggris menolak kesepakatan pemerintah untuk keluar dari Uni Eropa.

Tersisa 17 hari lagi sebelum Inggris akan meninggalkan Uni Eropa tanggal 29 Maret 2019, May berusaha dan sejauh ini gagal untuk mengamankan perubahan perjanjian keluar dari Uni Eropa dalam menit-menit terakhir sebelum pemungutan suara parlemen hari Selasa, 12 Maret 2019, tentang menyetujui atau menolak kesepakatan.

Jika May gagal maka anggota parlemen Inggris diperkirakan akan memaksanya untuk mengajukan penundaan kepada Brexit yang menurut sebagian orang bisa membatalkan keputusan tahun 2016 untuk meninggalkan blok itu.

Krisis rumit Inggris atas keanggotaan Uni Eropa tengah mendekati akhir dengan serangkaian opsi luar biasa termasuk penundaan, kesepakatan menit terakhir, Brexit tanpa kesepakatan, pemilihan umum lebih awal, atau bahkan referendum baru.

Nigel Dodds, wakil pemimpin Partai Unionis Demokrat (DUP) yang menopang pemerintahan minoritas May, dan Steve Baker, seorang tokoh terkemuka dalam faksi euroskeptik besar dari Partai Konservatif, memperingatkan adanya “situasi politik suram.”

Juru bicara Brexit dari oposisi Partai Buruh, Keir Starmer, mengatakan bahwa partainya harus mendukung untuk tetap di Uni Eropa jika ada referendum kedua. Namun, dia mengatakan partai itu tidak akan berusaha untuk mendapatkan dukungan di parlemen untuk referendum kedua hari Selasa, 12 Maret 2019.