JofiPay-Menjelang akhir pekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan tertekan.
Pada pagi hari ini rupiah diperdagangkan melemah meski mayorutas mata uang di Asia menguat,melemahnya rupiah ini disebabkan oleh faktor domestik atau internal.

Melemahnya mata uang garuda ini disebabkan oleh sejumlah faktor yang melibatkan dinamika di dalam negeri. Pertama, rupiah sudah menguat lumayan tajam dalam sebulan terakhir yaitu mencapai 1,24%.
Kemungkinan investor sudah mendapatkan untung dari kenaikan rupiah sehingga rupiah mengalami tekanan jual karena pelaku pasar ramai-ramai mencairkan cuan tersebut.

Rupiah juga terimbas dari kenaikan harga minyak mentah dunia,karena Indonesia merupakan importir minyak dan harga minyak terus beranjak naik.

Rupiah pagi ini dibuka pada level Rp14,090 per dolar AS,dan berdasarkan data Bloomberg pukul 10:00 WIB rupiah berada pada Rp14,077.50 per dolar AS,melemah 17.50 poin atau 0,12 persen dari penutupan hari sebelumnya yang berada pada Rp14,090 per dolar AS.

Untuk indeks dolar yang mengukur kekuatan Greenback terhadap banyak mata uang saat ini berada pada 97,840 melemah 0,007 atau 0,002 persen dari penutupan sebelumnya yang berada pada 97,847.

Bank Indonesia (BI) juga sudah menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 5,25%,tetapi sepertinya pasar belum meresponya.
Ada kemungkinan pasar menilai bahwa stimulus moneter dari BI hanya mendorong ekonomi dari sisi penawaran (supply). Penurunan suku bunga, pelonggaran uang muka, pelonggaran GWM, intinya adalah agar perbankan bisa menawarkan kredit lebih banyak agar perekonomian bergerak.