JofiPay,-Pergerakan dolar AS dalam sepekan berusaha mencetak penguatan terhadap mata uang utamaa negara lain semakion terlihat.

Pada perdagangan akhir pekan Jumat 09/03/2018 Terpantau dolar bergerak kuat terhadap semua rival utamanya menerima sentimen positif dari pulihnya kebuntuan konflik nuklir Amerika dengan Korea Utara.

Berita President Donald Trump yang bersedia berjumpa dengan Presiden Korea Utara Kim Jong Un untuk membahas mengenai konflik nuklir mengangkat kuat perdagangan aset beresiko sehingga berdampak pada meningkatnya yield obligasi pemerintah AS.

Sedangkan untuk nilau tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan ini mengalami pelemahan.
Mengutip Bloomberg, Jumat (2/3), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,07% ke level Rp 13.757 per dollar AS. Sepekan, mata uang Garuda terdepresiasi 0,65%.

Sementara, kurs tengah Bank Indonesia memperlihatkan penguatan rupiah sebesar 0,34% menjadi Rp 13.746 per dollar AS pada Jumat. Namun, sepekan, valuasi rupiah masih tertekan 0,56%.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan, sepekan ini, rupiah tertekan sentimen indeks dollar AS yang menguat seiring ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserves.

Hasil notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan pidato Ketua The Fed yang baru Jerome Powell menunjukkan nada hawkish dan ada kemungkinan tahun ini suku bunga naik lebih dari tiga kali. Hal ini menyebabkan dollar AS menguat dan pasar kaget.

"Sepekan ini rupiah dalam level tinggi, lebih karena dollar AS yang menguat," kata Lana, Jumat (2/3). Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan rupiah semakin gampang terdorong pada penghujung pekan.

Lana memproyeksikan, pekan depan, rupiah masih pada level yang sama seperti pekan ini. Rupiah diproyeksikan tak banyak bergerak karena masih menunggu hasil keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan 21 Maret 2018.

Sementara, data dalam negeri seperti inflasi yang stabil masih belum cukup kuat untuk menahan sentimen global. Lana berharap, Senin (5/3), Bank Indonesia cukup aktif menjaga rupiah, sehingga ruang penguatan masih bisa terlihat. Proyeksinya, rupiah akan bergerak di rentang Rp 13.750-Rp 13.760 per dollar AS.

Sedangkan menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksikan rupiah masih akan melemah karena permintaan dolar akan sangat tinggi jelang rapat FOMC. "Pelaku pasar cenderung shifing ke dolar AS," Ia memprediksikan rupiah berada pada renteng Rp 13.700-Rp 23.850 per dolar AS.