JofiPay- Rupiah semakin loyo terhadap dolar AS,pada pembukaan pasar pagi ini Selasa (06/08) rupiah berada Rp14,330 per dolar AS.
Sentimen external banyak mempengaruhi rupiah sehingga tidak bertenaga.

Sengitnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berujung pada potensi perang mata uang alias currency war. Pasalnya, mata uang yuan China terdepresiasi ke level terendah sejak 2008 yaitu menembus 7 yuan per dollar AS sebagai salah satu bentuk retaliasi atas kenaikan tarif AS terhadap barang-barang China.

pelemahan yuan yang drastis akan menyulitkan negara-negara eksportir lain, termasuk Indonesia. Pasalnya, untuk menjaga ekspor tetap berdaya saing, negara lain juga perlu untuk melemahkan nilai tukar mata uangnya.

Trump yang mengeluarkan ancaman akan menaikkan tarif biaya import dari China,dan China merespon akan melakukan segala cara untuk membalasnya,termasuk salah satunya melemahkan mata uang mereka yaitu yuan.

Currency war menjadi ancaman baru bagi perekonomian dalam negeri, terutama terhadap kinerja ekspor yang memang sedang terseok-seok sepanjang tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2019 hanya 5,05%. Pertumbuhan ekspor lagi-lagi mengalami kontraksi 1,81% secara tahunan (yoy).

Saat ini pada data Boomberg pukul 10:00 WIB,rupiah berada di Rp 14,327.50 per dolar AS,melemah 72.50 poin atau 0.51% dari penutupan sebelumnya di harga Rp14,225 per dolar AS.
Sementara itu untuk indeks dolar AS yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama melemah 0,141 poin atau 0,14% ke 97,167 dari penutupan sebelumnya 97,308.